dimulai saja ceritanya =>>
Bagaikan pelangi, ya seperti itulah
kehidupan. Terkadang berwarna merah lalu berganti jingga dan nila kemudian
berakhir menjadi ungu. Setiap alur yang tercipta di kehidupan merupakan lukisan
maha dahsyat yang Tuhan berikan. Hidup ini terlalu indah untuk dicampakan,
lihat begitu banyak warna-warni di dalamnya. Terdapat banyak sekali cerita menarik,
petualangan, serta pelajaran jika kamu sudah mengerti akan arti dari kehidupan.
Berjalanlah dan mulai temukan warna pelangi terindahmu.
"Huhh" Aku sedikit menghela nafas, menenangkan perasaanku. Saat melihat beberapa amplop berwarna-warni di kolong mejaku. Akan berapa lama lagi ia melakukan ini, tidak lelahkah orang itu melakukan ini setiap hari?
"Mata ini ingin berbicara, mengungkapkan sesuatu akan keganjalan disini... Di hatiku. Saat tubuh ini berpapasan denganmu kala itu. Seolah duniaku terhenti seketika saat itu juga. Kamu adalah pangeran... Pangeran di abad 21. Aku, disini, akan selalu berada disini. Bersabar menanti kehadiranmu..."
Kurang lebih seperti itu surat cinta
yang kuterima darinya. Dia, gadis SMA kelas XI di sekolahku. Maharani namanya,
gadis biasa-biasa saja yang sangat tidak populer. Bagaimana tidak?! Lihatlah
penampilannya, dengan potongan rambut pendek bergaya khas Dora diiringi
kulitnya yang hitam pekat serta badannya yang besar seperti tembok Cina. Ergh,
sangat tidak matching! Dialah gadis yang selalu mengejarku semenjak 2 tahun
lalu, bahkan seakan rasa malunya sudah ia gantungkan. Ia terus mendekatiku,
padahal aku sama sekali tidak pernah memberikan sebuah harapan padanya. Entah
apa yang ada di pikiran gadis obesitas itu.
Oh Tuhan apakah ini? Dari sekian banyak gadis yang mengidolakanku mengapa perhatianku justru tersita pada gadis berbentuk lingkaran seperti ini! Sikapnya yang pantang menyerah untuk mendapatkan setidaknya perhatianku membuatku memberi nilai lebih pada gadis yang lebih mirip truk pasir itu. Apa aku mulai gila? Ya, lama-lama kewarasanku mulai terkikis oleh semangat gadis bernard bear itu. Dia bukanlah seorang wanita SMA berpakaian modern, mengenakan behel, memakai BlackBerry sebagai hpnya dan mobil Jazz sebagai kendaraannya. Bukan, dia tidak seperti itu! Dia hanyalah wanita yang tampil seadanya bahkan terlalu apa adanya untuk ukuran gadis SMA di kota metropolitan. Ternyata aku tak cukup bisa melupakan nona truk pasir itu. Menghilangkan sosoknya dari benakku. Bagai noda getah yang melekat pada pakaian, seperti itulah dirinya. Ia selalu melekat di jaringan syaraf pikiranku, senyuman khasnya selalu terpampang jelas saat aku mulai memejamkan mata. Tidak bisakah kau sejenak enyah dari benakku? Ku mohon pergilah!
***
Awan begitu cerah siang ini, mentari
terlihat sedang mengulum senyum pada makhluk-makhluk hidup di bumi. Angin pun
begitu riuh rendah terasa, sungguh tempat ini terasa begitu tenang. Yaitu danau
cukup besar yang mempunyai tiga warna, jernih, biru langit dan agak kecoklatan.
Indah sekali! Letaknya pun tak begitu jauh dari rumahku. Aku memang seperti ini
menyukai kesendirian serta ketenangan. Sejak kanak-kanak hingga saat ini aku
kurang menyukai keramaian serta kebisingan. Akupun hampir tidak pernah bergaul
dengan lingkungan sekitarku.
"kreekk" Terdengar suara dedaunan kering yang terinjak, aku pun mengedarkan pandanganku untuk mencari sumber suara tersebut. Terdapat seorang gadis bertubuh panjang x lebar = gendut yang sedang mengamatiku dari balik pohon angsana. Gadis bodoh! Kau bersembunyi di tempat yang tidak strategis, pohon itu tidak cukup besar untuk menutupi tubuhmu. Aku pun melambaikan tangan agar ia datang mendekat, perlahan namun pasti ia berjalan ke arahku.
"Ada apa? " Tanyaku dengan
ekspresi datar dan nada yang cukup dingin. Bukannya menjawab pertanyaanku, ia
justru hanya terpaku melihatku. Hei, nona truk pasir apa yang kau lihat?!
"Ka Billy" Itulah ucapan pertama yang keluar dari mulutnya. Ia berbicara dengan nada kekaguman di wajahnya, aku pun hanya menatapnya tajam tanpa tersenyum sedikitpun. Aneh! Wajahnya kini memerah, peluhnya mulai meluncur indah dari pelipis kanannya dan saat tak sengaja aku menyentuh tangannya terasa DINGIN! Sebegitu hebatkah efect keberadaanku untuknya? Hei, Bernard Bear kau membuatku merasa istimewa. Gadis itu kini mengeluarkan sesuatu dari tas ransel coklat miliknya.
"Ini makanlah" Ia menyodorkan kotak makannya yang
berisi kue warna-warni yang sangat terlihat menarik dan membuatku langsung
ingin menyantapnya. Aku mengambil kue yang berwarna merah muda dan segera
memakannya, sungguh dugaanku benar. Kue ini rasanya enak sekali.
"Ini namanya jajanan pasar kak, asli khas Indonesia" Pemaparan darinya yang membuatku mengangguk pertanda mengerti. Sebagai anak blasteran Indonesia Aussie dan baru tinggal di Indonesia 4 tahun yang lalu membuat pengetahuanku tentang negara khatulistiwa ini agak sedikit minim. Siapakah gadis ini sebenarnya? Mengapa ia bisa membuatku nyaman berada di dekatnya?! Namun, biarlah sejenak aku merasakan dunia nona gajah obesitas ini. Dunia penuh warna yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
"Ini namanya jajanan pasar kak, asli khas Indonesia" Pemaparan darinya yang membuatku mengangguk pertanda mengerti. Sebagai anak blasteran Indonesia Aussie dan baru tinggal di Indonesia 4 tahun yang lalu membuat pengetahuanku tentang negara khatulistiwa ini agak sedikit minim. Siapakah gadis ini sebenarnya? Mengapa ia bisa membuatku nyaman berada di dekatnya?! Namun, biarlah sejenak aku merasakan dunia nona gajah obesitas ini. Dunia penuh warna yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
"Aku ingin memakan ini lagi,
bisakah kau membawakannya besok? " Kalimat pertamaku yang baru bisa keluar
sejak tadi. Dengan sigap ia pun menganggukan kepalanya. Terima kasih Nona
Bernard, atas semua perlakuan spesialmu untukku. Itu sangat membuatku
tersanjung. Hei, apa-apaan ini? Apa yang baru aku pikirkan tadi?! Sungguh
bagaimana jadinya nanti jika dia menjadi pendamping hidupku kelak dan aku harus
memperkenalkannya di depan relasiku.
"Perkenalkan nama saya Billy Prawisnu Adam seorang direktur dari sebuah perusahaan otomotif terbesar di Asia dan ini kekasih saya namanya Maharani dan dia seorang gajah" Wadaaw! Nona truk pasir kuruskan badanmu! Imajinasi sesaatku yang sungguh menyeramkan. Dimana? Lewat sudut manakah aku harus keluar dari perasaan ini. Ternyata aku sudah mulai merangkak perlahan ke dalam kehidupan gadis ini tanpa sepengetahuannya. Sungguh, aku sangat lega saat ia tak menyadari bahwa kebekuanku kini mulai mencair"
***
"Perkenalkan nama saya Billy Prawisnu Adam seorang direktur dari sebuah perusahaan otomotif terbesar di Asia dan ini kekasih saya namanya Maharani dan dia seorang gajah" Wadaaw! Nona truk pasir kuruskan badanmu! Imajinasi sesaatku yang sungguh menyeramkan. Dimana? Lewat sudut manakah aku harus keluar dari perasaan ini. Ternyata aku sudah mulai merangkak perlahan ke dalam kehidupan gadis ini tanpa sepengetahuannya. Sungguh, aku sangat lega saat ia tak menyadari bahwa kebekuanku kini mulai mencair"
***
Ternyata namaku cukup terkenal di
sekolah ini. Dengan hanya menyebutkan namaku Billy Prawisnu Adam, lapangan
basket kini penuh sesak dengan penonton. Termasuk Nona Bernard itu, ya dia akan
selalu berada di situ untukku!
"Billy, look at your biggest
fans at there! Dia sudah berbaris paling depan untuk melihatmu bertanding hari
ini" Pemberitahuan Aldo membicarakan si gajah, hmm bukan! Maksudku Rani.
Aku hanya melihatnya sekilas berlaga tak peduli.
"Apa kau sudah mulai menyukai fansmu yang subur itu Bill? " Aldo cukup! Berhenti mengintrogasiku atau akan ku gantung kau hidup-hidup.
"Tidak! " Aku mencoba
menutupi perasaanku yang sesungguhnya. Aku tak mau siapa pun mengetahui tentang
hal ini, bisa-bisa aku ditertawakan jika mereka mengetahui bahwa aku mulai
menyukai nona truk pasir itu. Aldo berdiri kemudian melambaikan tangan kepada
Rani, pertanda 'kesini'. Si gajah itu pun mulai memasuki lapangan. Aku
merasakan firasat tidak enak, hal jail apa yang akan Aldo lakukan.
"Hmm, benarkah kau yang bernama
Rani?" Tanya Aldo bertingkah seperti raja minyak sok cakep. Seharusnya
tadi aku membawa minyak goreng untuk mengguyurnya jika ia melakukan hal
menyebalkan seperti ini. Nona Bernard itu pun mengangguk.
"Sepertinya Billy juga
menyukaimu nona, ya dia memang menyukai dirimu" Celetuk Aldo berbicara.
Aldo kau tahu? Susah payah aku menutupi perasaan ini tapi mengapa dengan
mudahnya kau membongkarnya! Hatiku bergejolak nan bimbang, apa yang seharusnya
aku ucapkan? Haruskah aku mengakuinya? Arrh, aku benci keadaan seperti ini!
"Tidak! Aku bahkan sama sekali
tidak tertarik padamu" Ucapanku yang membuat suasana hening seketika
"Ka Billy..." Panggilnya
lirih yang tanpa sadar ia menjatuhkan kotak makanan berisi kue warna-warni yang
ia pegang.
"Jangan pernah bermimpi mendapatkan seorang pangeran yang sempurna. Apa kau mengetahui sesuatu? Kau itu SANGAT jelek dan gendut. Lebih baik kau bercermin dan lihat betapa buruknya dirimu!" Ucapan spontanitas dariku yang pasti membuatnya sakit hati dan merasa buruk.
"Jangan pernah bermimpi mendapatkan seorang pangeran yang sempurna. Apa kau mengetahui sesuatu? Kau itu SANGAT jelek dan gendut. Lebih baik kau bercermin dan lihat betapa buruknya dirimu!" Ucapan spontanitas dariku yang pasti membuatnya sakit hati dan merasa buruk.
Aku tahu aku sangat kasar padamu
Rani, aku tak mampu mengalahkan rasa egois serta malu yang aku alami. Walaupun
aku tak mengatakannya, maafkan aku dan kau harus selalu tahu bahwa kau adalah
wanita yang sangat istimewa untukku.
Ia terlihat menciptakan air terjun kecil diantara kedua pelupuk matanya, kemudian berlalu pergi meninggalkan lapangan. Air mata itu? Akulah penyebabnya. Rasanya ingin sekali aku menyeka air matamu itu. Namun, apa daya? Kau menyukai pria dingin yang seringkali tidak mengerti akan perasaan yang ia alami sendiri sekali pun.
Semenjak kejadian itu aku tak pernah melihatnya lagi, melihatnya selalu berkeliaran disekitarku. Kemanakah dirimu? Datanglah, hati ini kini mulai mencarimu. Merindukan kehadiranmu
Ia terlihat menciptakan air terjun kecil diantara kedua pelupuk matanya, kemudian berlalu pergi meninggalkan lapangan. Air mata itu? Akulah penyebabnya. Rasanya ingin sekali aku menyeka air matamu itu. Namun, apa daya? Kau menyukai pria dingin yang seringkali tidak mengerti akan perasaan yang ia alami sendiri sekali pun.
Semenjak kejadian itu aku tak pernah melihatnya lagi, melihatnya selalu berkeliaran disekitarku. Kemanakah dirimu? Datanglah, hati ini kini mulai mencarimu. Merindukan kehadiranmu
***
Penyesalan akan selalu datang belakangan, sepertinya kalimat tersebut berlaku untukku saat ini, ya rasa menyesal kini menari-nari lincah dipikiranku. Aku pun berniat menyelidiki keadaannya dengan mengunjungi kediamannya di daerah Jakarta Timur. Rumah sederhana bercat kuning dengan aksen minimalis nomor 3, itulah rumahnya. Rumah ini terlihat sepi dan hening, hingga kudapati seorang wanita cantik keluar dari rumah itu.
"Cari siapa nak? " Tanya wanita tersebut dengan lembut
"Saya cari Rani ka" Ia tersenyum mendengar jawabanku yang membuatnya makin bertambah menarik. Lelaki normal manapun pasti tertarik melihat wanita secantik dia.
"Perkenalkan saya ibunya. Kebetulan Rani sedang tidak ada di rumah dan saya akan menjenguknya. Kamu mau ikut?" Wanita itu ibunya nona truk pasir itu? Tapi mengapa mereka sama sekali tidak mirip.
Aku dan ibunya Rani pun meluncur melintasi Jakarta, terdapat berjuta pertanyaan dibenakku ini. Maharani, dimanakah engkau? Maafkan aku. Aku sungguh ingin memperbaiki semuanya. Mobil ini pun berhenti di suatu tempat yang membuatku bergidik aneh, apa yang Rani lakukan di tempat seperti ini? Ibu muda ini berhenti di sebuah gundukan tanah dengan papan yang tertulis Maharani. Sebenarnya apa yang terjadi...
Penyesalan akan selalu datang belakangan, sepertinya kalimat tersebut berlaku untukku saat ini, ya rasa menyesal kini menari-nari lincah dipikiranku. Aku pun berniat menyelidiki keadaannya dengan mengunjungi kediamannya di daerah Jakarta Timur. Rumah sederhana bercat kuning dengan aksen minimalis nomor 3, itulah rumahnya. Rumah ini terlihat sepi dan hening, hingga kudapati seorang wanita cantik keluar dari rumah itu.
"Cari siapa nak? " Tanya wanita tersebut dengan lembut
"Saya cari Rani ka" Ia tersenyum mendengar jawabanku yang membuatnya makin bertambah menarik. Lelaki normal manapun pasti tertarik melihat wanita secantik dia.
"Perkenalkan saya ibunya. Kebetulan Rani sedang tidak ada di rumah dan saya akan menjenguknya. Kamu mau ikut?" Wanita itu ibunya nona truk pasir itu? Tapi mengapa mereka sama sekali tidak mirip.
Aku dan ibunya Rani pun meluncur melintasi Jakarta, terdapat berjuta pertanyaan dibenakku ini. Maharani, dimanakah engkau? Maafkan aku. Aku sungguh ingin memperbaiki semuanya. Mobil ini pun berhenti di suatu tempat yang membuatku bergidik aneh, apa yang Rani lakukan di tempat seperti ini? Ibu muda ini berhenti di sebuah gundukan tanah dengan papan yang tertulis Maharani. Sebenarnya apa yang terjadi...
"Kanker darah membuatnya harus
meninggalkan dunia ini begitu cepat" Ucap ibu Wati Permana dengan nada
sedih. Ia pun duduk dan memeluk nisan anaknya tersebut dengan penuh kesedihan
diraut wajahnya.
"Rani, ini ada temanmu nak. Siapa dia? Pria ini tampan sekali. Apa dia kakak kelas yang sering kamu ceritakan?" Terdengar suara isakan darinya. Sungguh sangat sulit dipercaya dengan keadaan ini. Aku pun ikut duduk didekat nisan Nona Bernard ini, ku tatap makam yang kini menjadi peristirahatan terakhir dari gadis istimewa yang berada dihatiku. Apa kau masih marah Rani? Bahkan kau tidak mengizinkanku untuk meminta maaf padamu.
"Hei, Rani bangunlah! Mengapa kau kalah dengan hanya melawan penyakit sekecil itu. Badanmu itu jauh lebih besar darinya, kau bisa meninjunya, menjatuhkannya sesuka hatimu" Aku berbicara sendiri di depan pusara ini.
"Heh nona! Kau lupa? Kau belum memberikanku kue jajanan pasar yang aku pesan. Ayolah aku ingin memakannya" Kini aku mulai menitikkan air mata, jenis spesies lelaki apakah aku ini? Aku menangis. Ya, aku menangisi gadis yang selama ini terus mewarnai hidupku dengan tingkahnya. Nona Bernard itu ternyata secara perlahan telah membuat goresan-goresan kecil di hatiku yang membuatku terus mengingatnya.
"Dia mengidap leukimia (kanker darah) sejak 2 tahun lalu, semangat hidupnya sempat redup namun semenjak ada seseorang yang sangat ia sukai semangat hidupnya kembali menyala. Waktu itu dia tidur hingga larut untuk mempersiapkan sebuah susunan kue untuk pria tersebut. Ia nekat berangkat saat itu, padahal kesehatannya sedang tidak memungkinkan. Namun, ia berkata hari itu kaka kelasnya sedang bertanding dan dia harus berada di sana" Nona Bernard... Sebegitu hebatkah kau mencintaiku? Perlu kau tahu aku pun juga merasakan hal yang sama, belakangan ini bayangmu kerap kali muncul dibenakku.
Sang ibu muda itu pun memberikanku sebuah kotak berwarna coklat berisikan sebuah CD didalamnya.
"Rani, merekam ini sesaat sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.."
"Rani, ini ada temanmu nak. Siapa dia? Pria ini tampan sekali. Apa dia kakak kelas yang sering kamu ceritakan?" Terdengar suara isakan darinya. Sungguh sangat sulit dipercaya dengan keadaan ini. Aku pun ikut duduk didekat nisan Nona Bernard ini, ku tatap makam yang kini menjadi peristirahatan terakhir dari gadis istimewa yang berada dihatiku. Apa kau masih marah Rani? Bahkan kau tidak mengizinkanku untuk meminta maaf padamu.
"Hei, Rani bangunlah! Mengapa kau kalah dengan hanya melawan penyakit sekecil itu. Badanmu itu jauh lebih besar darinya, kau bisa meninjunya, menjatuhkannya sesuka hatimu" Aku berbicara sendiri di depan pusara ini.
"Heh nona! Kau lupa? Kau belum memberikanku kue jajanan pasar yang aku pesan. Ayolah aku ingin memakannya" Kini aku mulai menitikkan air mata, jenis spesies lelaki apakah aku ini? Aku menangis. Ya, aku menangisi gadis yang selama ini terus mewarnai hidupku dengan tingkahnya. Nona Bernard itu ternyata secara perlahan telah membuat goresan-goresan kecil di hatiku yang membuatku terus mengingatnya.
"Dia mengidap leukimia (kanker darah) sejak 2 tahun lalu, semangat hidupnya sempat redup namun semenjak ada seseorang yang sangat ia sukai semangat hidupnya kembali menyala. Waktu itu dia tidur hingga larut untuk mempersiapkan sebuah susunan kue untuk pria tersebut. Ia nekat berangkat saat itu, padahal kesehatannya sedang tidak memungkinkan. Namun, ia berkata hari itu kaka kelasnya sedang bertanding dan dia harus berada di sana" Nona Bernard... Sebegitu hebatkah kau mencintaiku? Perlu kau tahu aku pun juga merasakan hal yang sama, belakangan ini bayangmu kerap kali muncul dibenakku.
Sang ibu muda itu pun memberikanku sebuah kotak berwarna coklat berisikan sebuah CD didalamnya.
"Rani, merekam ini sesaat sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.."
Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang
sesudi apakah aku padamu
Aku tak akan berhenti mencintaimu
Sampai aku tak bernyawa lagi
Sebagai manusia yang tau kaidah
Akan ku tanamkan cinta yang sopan
Sehidup semati kamu yang hidup aku yang mati pun tak mengapa
Akan ku latih hatiku ini, siap menerima apa saja
Tuhan ajari aku bersabar, membimbing rasa di hatiku
Bila mataku tak bisa lagi, menatap wajah cintaku ini
Tuhan tolong beri aku waktu, untuk merasakan cintanya
sesudi apakah aku padamu
Aku tak akan berhenti mencintaimu
Sampai aku tak bernyawa lagi
Sebagai manusia yang tau kaidah
Akan ku tanamkan cinta yang sopan
Sehidup semati kamu yang hidup aku yang mati pun tak mengapa
Akan ku latih hatiku ini, siap menerima apa saja
Tuhan ajari aku bersabar, membimbing rasa di hatiku
Bila mataku tak bisa lagi, menatap wajah cintaku ini
Tuhan tolong beri aku waktu, untuk merasakan cintanya
Ia bernyanyi dengan suara aslinya, Nona kau tahu suaramu itu jelek sekali. Ingin rasanya aku mengajarkan tentang vocal padamu, aku ingin memarahimu. Kau pergi karena aku, mengapa? Aku belum bertanya mengapa kau bisa menyukaiku. Bangunlah, aku akan mengatakan sesuatu yang sejak dulu tersimpan disini, di hatiku..
"Aku juga mencintaimu" Aku
harap kau bisa mendengarnya disana. Lagi, aku kembali menitikkan air mata.
Mengapa? Kenapa aku justru mendapatkan cinta yang tulus dari seseorang yang
selama ini ku abaikan. Selamat beristirahat Rani semoga kau tenang di alammu
sana. Terima kasih Tuhan, kau sempat menghadirkannya walaupun hanya sebentar.
Kini kau mengajarkanku sesuatu, untuk tidak mensia-siakan setiap orang yang
datang kehidupku. Aku mengerti sekarang bahwa setiap makhluk hidup di dunia ini
pasti memiliki arti bagi sesamanya. Manfaatkanlah waktumu bersama orang yang
kau sayangi sebaik-baiknya karena kita takkan pernah tahu bahwa suatu saat
orang yang kita abaikan justru adalah orang yang berarti untuk hidup kita.
Karena waktu adalah tempat yang kejam bagi mereka yang tidak pernah bisa
menghargainya
Inspirated : Melly Goeslow_Tanyakan pada rumput yang bergoyang
Inspirated : Melly Goeslow_Tanyakan pada rumput yang bergoyang